M. Yusuf Sisus




M. Yusuf Sisus lahir 11 Oktober 1952 di Parupuk, Tabing, dekat Asrama Haji Padang. Nama kecilnya Sisus dan nama ini dipakainya hingga masuk kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Ayah bundanya orang Nias kelahiran Padang. Ayahnya bernama Buyung Lava Lömbu, lahir di Rimbo Kaluang, Padang dan ibu bernama Upik Zai alias Kanaati Zai, lahir di Pasar Usang, sekitar 40 KM dari Padang. Kakeknya dari ayah bernama Suwökhi Lömbu berasal dari Sogaeadu, Kecamatan Gidö, Gunung Sitoli Nias. Beliau menikah dengan orang Nias kelahiran Padang. Kakek dan nenek dari pihak ibunya, keduanya keturunan Nias yang lahir di Padang.

Ketika berusia lima tahun, Yusuf mendapat hadiah nama khas Nias dari keluarga, yaitu Haogödödö Lömbu. Haogödödö artinya perbaiki hati. Sewaktu kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) di Jakarta, Rektor  PTIQ, Bapak Prof. KH. Ibrahim Hosen menyarankan  agar nama Sisus diganti dengan Muhammad Yusuf. Ia setuju, tetapi nama Sisus tetap dipakai agar keluarga tidak kehilangan jejak, maka nama lengkapnya menjadi Muhammad Yusuf Sisus.

Menurut cerita orang tuanya, sewaktu Yusuf berusia setahun, keluarganya pindah dari Tabing ke Bukit Karan, Rawang Kecamatan Padang Selatan. Penduduk yang tinggal di Bukit Karan ini orang Nias. Mayoritas beragama Kristen Protestan dan sebagian kecil ada yang Kristen Katolik. Mata pencaharian utama mereka bertani. Sebagian lainnya bekerja sebagai kuli di Pelabuhan Teluk Bayur. Ayahnya sendiri selain bertani, beliau juga bekerja sebagai pegawai Jawatan Pelabuhan Teluk Bayur, Padang.


Belajar Agama Islam.

Yusuf terlahir dari keluarga yang percaya kepada arwah nenek moyang dan menyembah berhala (animisme). Sewaktu masih Sekolah Rakyat (SR), sebenarnya ia boleh keluar meninggalkan kelas pada jam pelajaran Agama Islam. Tetapi ia memilih untuk mengikuti pelajaran agama Islam tersebut. Guru Agama Islam yang pertamanya adalah bapak Syamsul Hidayat yang berasal dari Sicincin, Padang Pariaman. Kemudian digantikan oleh ibu Siti Ramani yang berasal dari Koto Tangah, Padang. Kedua guru agama di SR No. 16 Teluk Bayur ini sangat  dikaguminya. Bapak Syamsul Hidayat sangat piawai dalam bercerita. Sementara ibu Siti Ramani tidak kalah menariknya dalam mengajar, beliau mampu menyentuh hati murid-muridnya.

Dari pelajaran agama Islam yang diberikan oleh guru agama dan memperhatikan ummat Islam di sekitar, Yusuf jadi tertarik dengan Islam. Inilah agama yang harus ia anut. Ia meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam. Yusuf mengucapkan Dua Kalimat Syahadat pada hari Kamis 31 Desember 1964 bertepatan dengan 27 Sya’ban 1384H. Saat itu ia sudah kelas VI SR atau berusia 12 tahun. 

Sejak masuk Islam itu, Yusuf tidak lagi bersama orang tua, tetapi tinggal di Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur, Padang selama lima tahun. Memasuki tahun ke enam, saat duduk di kelas VI PGAN 6 Tahun Padang, dia tinggal di rumah ibunda Khadijah Zakaria, ibu dari Lailawati Rasyad yang satu sekolah dengannya di PGAN 6 Tahun Padang.


Tidak lulus test masuk PGAN 6 Tahun Padang. 

Islam itu, Yusuf ibaratkan seperti buah manggis, harus dikupas dulu baru dimakan. Bila manggis itu dimakan langsung dengan kulitnya akan terasa pahit. Islam itu harus dikupas, maksudnya dipelajari, didalami dan diamalkan; baru dirasakan manisnya iman dan indahnya Islam. Demikian penjelasan yang ia dapatkan dari guru agama yang membimbingnya. Agar ia mendalami Islam, Pengurus Muhamadiyah dan Aisyiah Teluk Bayur mengarahkannya masuk PGAN 6 Tahun Padang. 

Yusuf pun ikut test masuk PGAN 6 Tahun Padang pada tahun 1965. Saat disuruh membaca Al-Qur'an, ia  belum bisa membacanya. Ia masih belajar, karena baru beberapa bulan masuk Islam. Ia melihat huruf Arab itu seperti cacing berpilin-pilin. Akhirnya ia dinyatakan tidak lulus masuk PGAN 6 Tahun Padang. Hatinya sangat sedih.

Mengetahui tidak lulus, bapak Muhammad Sidiq, salah seorang Pengurus Muhammadiyah Teluk Bayur datang menghadap Pimpinan PGAN 6 Tahun Padang. Kepala Sekolah saat itu bapak Nurmana Zikri, wakil bapak Zaini Ahmad. Bapak Muhammad Sidiq menghadap bapak Zaini Ahmad. Beliau menjelaskan kepada bapak Zaini Ahmad bahwa Sisus adalah seorang muallaf, baru beberapa bulan masuk Islam. Dia ingin sekali mendalami Islam melalui PGAN 6 Tahun Padang ini. Kalau bisa mohon diberi kesempatan kepadanya untuk belajar Islam di PGAN ini. Usaha bapak Muhammad Sidiq tidak sia-sia. 

Alhamadulillah  Yusuf Sisus diterima, tetapi dengan status murid percobaan;  bila tidak naik kelas, maka dinyatakan gugur. Ia belajar sungguh-sungguh, pelajaran yang tidak difahami, ia bertanya kepada teman-temannya yang pintar. Pada saat menerima Rapor, nilai Yusuf bagus dan naik kelas II. Alhamdulillah tahun-tahun berikutnya naik kelas hingga akhirnya tamat PGAN 6 Tahun Padang pada tahun 1972. 


Masuk Perguruan Tinggi. 

Mulanya Yusuf kuliah di Fakultas Tarbiyah, Jurusan Bahasa Arab, IAIN Imam Bonjol Padang. Tetapi tidak lama, hanya sebulan. Ia pun merantau ke Jakarta karena diterima kuliah di Perguruan Tingg Ilmu Al-Qur'an (PTIQ). Ia diajak Ilham Chaliq Lukman, seniornya di PGAN yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Jakarta, agar ia pindah kuliah masuk PTIQ Jakarta, ada bea siswa. 

Prosedur masuk PTIQ ia tempuh. Yusuf ikut test di Padang bersama beberapa peserta lainnya. Persaingan ketat karena yang dikirim sebagai utusan Sumatera Barat hanya satu orang. Setelah diumumkan hasil test, ternyata yang terpilih adalah Asmini Maizan, ia tidak. Kemudian ia melapor kepada Ilham Chaliq Lukman bahwa dirinya tidak lulus. Anak Buya Lukman Mansyur ini, menyarankan agar ia tetap ke Jakarta. Bapak Bachtiar Ilyas yang kala itu berdinas di Depag Sumatera Barat memberikan dukungan agar ia  ke Jakarta. 

Yusuf Sisus berangkat ke Jakarta pada bulan Maret 1972. Inilah awal perjalanan hidup merantau ke Jakarta. 

Ia memiliki keinginan besar mendalami Islam di PTIQ. Syukurlah pada tahun 1972 ia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta. Kuliah gratis, asrama disediakan, dapat makan dan pakaian dicucikan. Setiap mahasiswa mendapat uang saku setiap bulan. Mantan Sekretaris Dewan Mahasiswa PTIQ ini berhasil menyelesaikan Sarjana Muda dengan gelar BA pada tahun 1975. Kuliah di PTIQ baginya sangat berat terutama menghafal Al-Qur'an. Akhirnya tahun 1976, Pimpinan PTIQ mempersilakan Yusuf untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi lain atas biaya sendiri. 

Begitu keluar kampus PTIQ, Yusuf harus memilih, kuliah atau kerja. Tempat tinggal juga menjadi masalah. Pertolongan Allah datang. Bapak Drs HA Bidawi Zubir, salah seorang dosen PTIQ mengajaknya tinggal di rumah beliau di Tebet. Suatu hal lagi yang menggembirakan, Yayasan Pendidikan Al-Qur'an (YPA) yang membawahi PTIQ dan Perpustakaan Islam memberi kesempatan kepadanya menjadi karyawan di Perpustakaan Islam. Perpustakaan Islam ini sekarang menjadi Perpustakaan Institut PTIQ.  

Beberapa bulan tinggal di Tebet, kemudian Yusuf pindah ke Cempaka Putih, karena mendapat tawaran menjadi guru TPA di Masjid Al-Huda Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Adapun soal tempat tinggal dan makan sehari-hari sudah ada pula yang bersedia dengan ikhlas membantunya, yaitu bapak Arief Soehardjo, mantan Ajudan Gubernur DKI Ali Sadikin. Beliau tidak minta imbalan, tetapi atas keinginannya sendiri, Yusuf mengajar mengaji anak-anak beliau. Hampir enam tahun, Yusuf tinggal di rumah yang terletak di Jalan Cempaka Putih Tengah 4A No. 1 Jakarta Pusat itu, yaitu dari tahun 1976 sampai 1982. 


Menikah dan mencari nafkah. 

Walaupun penghasilan kecil, baik sebagai Staf di Perpustakaan Islam, maupun sebagai guru TPA, Yusuf merasakan keberkahannya. Keberkahan ini membuatnya berani untuk berumah tangga. Waktu itu ia berusia 25 tahun dan sudah memiliki pilihan calon isteri, bernama Noverlemi Paraman, seorang gadis Minang yang berasal dari Cupak, Solok. Dia teman sekolah semasa di PGAN 6 Tahun Padang dan alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif  Hidayatullah, Jakarta.  

Tanggal 17 Maret 1977 mereka menikah di KUA Ciputat, kemudian tanggal 20 Maret 1977 dilangsungkan syukuran pernikahan di Gedung Muallimin Muhammadiyah Tebet yang difasilitasi oleh bapak Drs HA Bidawi Zubir dan keluarga. 

Nabi Muhammad SAW bersabda yang maksudnya bahwa shilaturrahim itu memperpanjang umur dan meluaskan rezki. Kebenaran Hadis Nabi SAW ini sudah sering terbukti pada dirinya. Pada suatu hari ia datang bertamu ke rumah ibu Yusni AM di Cawang, Jakarta. Beliau guru Aljabar sewaktu di PGAN 6 Tahun Padang. Kemudian beliau pindah mengajar Matematika di Daarul Mukminin Jakarta. Ibu dua anak ini menawarkan kepadanya agar mengajukan lamaran di Perum Astek. Ringkas cerita, ia diterima menjadi karyawan Perum Astek mulai tanggal 01 Juni 1979. Pada tanggal yang sama lahir pula anak pertama kami, Ulfah Yusuf. Saat ini mereka sudah dikaruniai tiga orang anak, sudah bekeluarga semua. Cucu sudah empat orang. 

Pertama kali bekerja, Yusuf ditempatkan di Bagian Humas Perum Astek. Tugasnya dituangkan dalam uraian tugas (jobs desription), tetapi tugas yang sering ia kerjakan adalah mengambil foto dokumentasi kegiatan perusahaan (jadi tukang foto), mempersiapkan ruang rapat dan soundsystem dan sekali-sekali melayani tamu dari luar, misalnya dari perusahaan yang ingin mendapat informasi soal program Astek, ada juga wartawan yang datang. Ia tidak memberikan keterangan, tetapi mengantarkan tamu ke pejabat yang berhak memberikan informasi, antara lain Kepala Bagian Humas. 

Mungkin bagi sebagian kalangan menjadi tukang foto itu tugas biasa saja, namun baginya merupakan tugas yang mengandung hikmah, antara lain ia dapat mengenal banyak orang di perusahaan dan mereka pun mengenalnya. Sehingga ia bisa bertemu Direksi dengan mudah, apalagi bila ia dapat mengabadikan foto Direksi dan pejabat lainnya dengan baik. Kesempatan ini kadangkala ia gunakan untuk menimba ilmu dari para senior, sehingga ilmu bertambah dan wawasan menjadi luas. Sementara itu, perusahaan memberi kesempatan pula kepada karyawan termasuk Yusuf, untuk mengembang karir dengan mengikut-sertakan dalam berbagai kursus, pendidikan dan latihan, studi banding bahkan mengikuti kuliah. 

Perusahaan tempat Yusuf bekerja sudah beberapa kali berubah setatus dan berganti nama. Mulanya Perum Astek berubah menjadi PT Astek (Persero), berobah lagi menjadi PT Jamsostek (Persero) dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sekarang  berubah menjadi Badan  yang  dikenal dengan nama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan).


Bekerja sambil kuliah. 

Perjalanan selanjutnya dalam memdalami Islam sekaligus meningkatkan jenjang pendidikan, Yusuf Sisus kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah Muhammadiyah Jambi. Mengapa sampai di Jambi? PT Jamsostek (Persero) mempromosikannya menjadi Kepala Cabang di Jambi. Pagi masuk kantor, sore masuk kampus. Mulai kuliah tahun 1993, selesai S1 pada tahun 1995 dan diwisuda tahun 1996. Saat kuliah di Jambi, usianya 43 tahun. Ia merupakan mahasiswa tertua dalam kelas, sementara mahasiswa lainnya rata-rata berusia 20-an. Jarak waktu dari meraih Sarjana Muda (BA) hingga kemudian meraih S1 lamanya 18 tahun. Bukan menjadi mahasiswa abadi, selama 18 tahun itu tidak kuliah sama sekali, tetapi ia fokus membina karir di perusahaan. 

Tahun 1996 Yusuf Sisus dimutasi dari Jambi ke Kantor Pusat PT Jamsostek (Persero). Peluang untuk meneruskan pendidikan terbuka lebar. Tahun 1996 itu juga ia mendapat bea siswa dari perusahaan untuk mengambil S2. Ia memilih Jurusan Administrasi Publik di Universitas Indonesia (UI). Terulang lagi, pagi masuk kantor, sore masuk kampus. Alhamdulillah, tanggal 12 September 1998 ia bersama lulusan lainnya diwisuda di Kampus UI Depok. 

Selama 29 tahun masa kerja, Yusuf tercatat dua belas kali dimutasi biasa dan mutasi promosi. Mulai dari Staf Humas di Kantor Pusat, Staf Operasi (marketing) di Kantor Cabang Jakarta, kemudian dipercaya menjadi Kepala Cabang di beberapa daerah. lalu promosi menjadi Kepala Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS) dan terakhir Direktur Utama Dana Pensiun Karyawan Jamsostek sampai memasuki pensiun 01 Nopember 2008.  Saat ini (2020) Yusuf Sisus berdomisili di Komplek Astek Serpong (dekat BSD), Tangerang Selatan, Banten.

Setahun sebelum pensiun, tahun 2007 Yusuf Sisus diterima mengajar di Institut PTIQ Jakarta dan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI). Sudah 13 tahun ia mengajar di dua Perguruan Tinggi tersebut dengan status Dosen Tidak Tetap, tetapi Alhamdulillah tetap jadi dosen.  Selain itu, selama lima tahun (2008 - 2013) ia diberi amanah menjadi Direktur Utama PT As-Salam Mulya Al-Haromain, sebuah biro perjalanan Umrah yang beralamat di Jalan Ciputat Raya, Tanah Kusir, Kebayoran Lama. Kemudian menjadi Komisaris dari tahun 2013 sampai sekarang (2020) di Perusahaan yang sama. Hanya saja sudah hampir empat bulan aktifitas travel terhenti, karena Arab Saudi menutup sementara aktifitas umrah bagi jamaah dari luar, akibat wabah virus corona Covid -19.

Update : 15 Juni 2020

About the Author

IKAPTIQ

Pengurus IKAPTIQ

Pengurus Ikatan Alumni PTIQ Jakarta

Cari Tokoh Di Sini

Popular Posts

Contact

Nama

Email *

Pesan *